Analisis Kasus Konversi Lahan Pesisir di Pulau X

Interaksi Mangrove di Pulau X

Lahan hutan mangrove yang terbentang di pesisir Pulau X memiliki luas hampir 1000 hektar. Dengan luas lahan yang ada, lahan mangrove ini kemudian dimanfaatkan oleh masyarakat sekitar untuk menjalankan roda perekonomiannya. Masyarakat setempat dapat mengambil kayu, dedaunan dari pohon mangrove dan biota perairan yang hidup di wilayah perairan mangrove untuk mencukupi kebutuhannya. Hutan mangrove ini juga mampu memberikan banyak manfaat bagi stabilitas lingkungan sekitar yang dapat ditinjau dari sisi ekologisnya sebagai penghalang erosi garis pantai, angin ribut dan gelombang laut. Selain menguntungkan dari segi ekonomi dan ekologi, hutan mangrove juga berperan sebagai tempat berkembang biak (nursery ground), pemijahan (spawning ground), dan mencari makan (feeding ground) bagi biota perairan dan hewan darat mangrove.

1. Permasalahan dan Pembahasan

1.1 Permasalahan
1.1.1 Rantai makanan, rantai energi, dan siklus pemangsa dan dimangsa pada hutan mangrove sebelum dikonversi
1.1.2 Alasan konversi lahan mangrove menjadi lahan tambak
1.1.3 Dampak rantai makanan, rantai energi, dan siklus pemangsa dan dimangsa setelah lahan mangrove dikonversi menjadi lahan tambak
1.1.4 Alasan konversi lahan tambak menjadi lahan kelapa sawit
1.1.5 Dampak rantai makanan, rantai energi, dan siklus pemangsa dan dimangsa setelah lahan tambak dikonversi menjadi lahan kelapa sawit.

1.2 Pembahasan
1.2.1 Rantai makanan, rantai energi, dan siklus pemangsa dan dimangsa pada hutan mangrove sebelum dikonversi


Dalam ekosistem mangrove terjadi rantai makanan/aliran energy dan siklus biogeokimia. Aliran energi sangat berpengaruh dalam rantai makanan mangrove. Siklus energi berperan dalam proses fotosintesis ke tanaman mangrove dan fitoplankton. Selanjutnya siklus energi ini secara berantai menjadikan suatu proses makan memakan pada rantai makanan. Rantai makanan pada mangrove dimulai dari tumbuhan hijau sebagai sumber energi utama (produsen) bagi ekosistem mangrove. Selanjutnya rantai makanan dilanjutkan oleh bakteri dan fungi yang secara langsung menguraikan senyawa organik (detritus) yang berasal dari penghancuran luruhan daun dan ranting mangrove yang jatuh ke substrat padat (tanah) dan substrat perairan pada ekosistem mangrove, maka dapat dikatakan organisme ini sebagai produsen utama dan ditempatkan pada tingkatan trofik kedua di dalam jaring makanan. Pada mangrove, rantai makanan pada substrat padat dan substrat perairan sangatlah berhubungan. Untuk lebih jelasnya, akan dibagi dua rantai makanan berdasarkan substratnya, yakni;

1. Substrat Padat

Pada substrat padat (tanah), dedaunan dan ranting ini akan membusuk oleh bakteri dan fungi yang kemudian akan menghasilkan detritus. Hancuran bahan organik (detritus) yang telah diperkaya oleh nitrogen ini kemudian menjadi sumber nutrien mangrove itu sendiri dan menjadi bahan makanan penting bagi hewan pemakan detritus (cacing dan hewan invertebrata lainnya). Kemudian cacing dan hewan avertebrata lainnya akan dimakan oleh karnivor tingkat sedang, yang selanjutnya akan dimakan oleh karnivor tingkat tinggi. Tingkatan karnivor pada substrat ini pada umumnya berlangsung pada jenis insekta, burung, dll.

2. Substrat Perairan

Pada substrat perairan, proses pembusukan menjadi detritus berlangsung lebih cepat dibandingkan proses pembusukan pada substrat padat. Sistem akar pada mangrove yang padat menyebabkan sedimen yang mengandung unsur hara, terperangkap. Sehingga daerah perairan menjadi kaya akan nutrien dan tentunya menjadi sumber makanan penting bagi biota perairan mangrove. Pada substrat perairan, dedaunan dan ranting yang jatuh ke perairan wilayah mangrove akan membusuk didalam perairan. Dedaunan dan ranting yang telah membusuk ini akan menjadi nutrien bagi fitoplankton yang tumbuh di dasar perairan. Peristiwa makan dan dimakan dimulai dari fitoplankton yang dimakan oleh zooplankton. Kemudian zooplankton ini akan dimakan oleh karnivor tingkat sedang yang selanjutnya oleh karnivor tingkat tinggi. Tingkatan karnivor pada substrat perairan umumnya berlangsung pada jenis udang, kepiting, dan ikan.

Tingkatan-tingkatan konsumer pada kedua substrat pada umumnya diurutkan berdasarkan kebiasaan makan dan ukuran dari organisme konsumen. Pada kedua substrat tersebut, bukan berarti rantai makanan tersebut tidak saling berhubungan. Tidak menutup kemungkinan peristiwa rantai makanan terjadi pada karnivor substrat padat memakan karnivor substrat perairan ataupun sebaliknya. Dapat dikatakan bahwa terjadi hubungan antara individu dengan lingkungannya sangat kompleks, bersifat saling mempengaruhi atau timbal balik. Setelah karnivor tingkat tinggi pada rantai makanan telah mencapai puncaknya, karnivor tingkat tinggi mati dan menjadi detritus yang berguna bagi nutrien ekosistem mangrove itu kembali.

Kasus 1
1.2.2 Alasan konversi lahan mangrove menjadi pertambakan

Hal yang menyebabkan terjadinya konversi lahan mangrove sebesar 1000 hektar menjadi tambak adalah karena hutan mangrove yang mengalami penurunan produktivitas akibat pemanfaatan atau pengeksploitasian ekosistem mangrove secara besar-besaran oleh masyarakat pesisir tanpa diikuti proses rehabilitasi kembali ekosistem mangrove tersebut. Alasan ini diperkuat oleh faktor ekonomi masyarakat pesisir Indonesia yang masih berada digaris kemiskinan. Dahulu masyarakat pesisir Pulau X bisa dengan mudah mendapatkan komoditas yang dapat dimanfaatkan untuk memenuhi kehidupan sehari-sehari maupun untuk diperdagangkan dari hutan mangrove ini, tetapi seiring dengan berjalannya waktu, potensial produktivitas mangrove mengalami penurunan sehingga masyarakat pesisir Pulau X memilih alternatif pengalihan fungsi lahan mangrove menjadi pertambakan.. Pengalihan fungsi lahan berdampak langsung kepada perubahan rantai makanan ekosistem mangrove menjadi rantai makanan ekosistem lahan yang baru.
1.2.3 Dampak rantai makanan,siklus energi dan siklus pemangsa dan dimangsa pada konversi lahan mangrove menjadi pertambakan.

Seperti yang telah dijelaskan diatas bahwa alasan pengkonversian lahan mangrove adalah karena penurunan dari produktifitas sebagai akibat dari pengeksploitasian ekosistem mangrove secara besar-besaran sehingga pengaruh rantai makanan ekosistem mangrove pun menjadi terganggu.
Kondisi bagan rantai makanan mangrove:
Luruhan dedaunan dan ranting mangrove yang jatuh
Mangrove Detritus Konsumen tingkat rendah Konsumen tingkat sedang Konsumen tingkat tinggi

Kondisi Rantai Makanan Setelah Dikonversi:

1. Sumber penghasil detritus

Sumber penghasil detritus pada bagan kedua (setelah dikonversi) yakni; feses ikan. Dari feses ikan ini akan terurai oleh bakteri yang kemudian menjadi makanan konsumen tingkat rendah.

2. Konsumen tingkat rendah

Konsumen tingkat rendah mendapatkan makanan dari detritus yang terurai oleh bakteri atau suplai makanan dari pertambakan tersebut berupa pakan. Pada konsumen tingkat sedang (mangrove) terlihat menurun atau mungkin saja hilang pada lahan pertambakan.

3. Konsumen tingkat tinggi

Pada konsumen tingkat tinggi (pertambakan) mungkin akan hilang/tidak ada, akan tetapi tidak menutup kemungkinan pula adanya organisme pengganggu pertambakan seperti burung yang menduduki konsumen tingkat tinggi.

Kasus 2

1.2.4. Alasan konversi lahan mangrove menjadi pertambakan

Hal yang menjadi alasan konversi lahan pertambakan sebesar 90-110 hektar ke perkebunan kelapa sawit dikarenakan masyarakat di pesisir Pulau X yang melihat cerahnya prospek hasil perkebunan kelapa sawit. Alasan ini diperkuat karena harga dari penjualan minyak kelapa sawit di Indonesia yang pada saat ini sangat menguntungkan untuk dikembangkan oleh masyarakat pesisir Pulau X maupun perusahaan swasta dan tentunya pada kasus ini, kelapa sawit berproduksi lebih tinggi dibandingkan dengan hasil produksi dari pertambakan. Terlebih lagi untuk memulai penanaman produksi kelapa sawit cukup murah, hanya memiliki syarat tanah liat gembur dan tanah gambut yang memiliki pengairan cukup bagus seperti yang terjadi pada kasus lahan pertambakan dan perkebunan kelapa sawit ini.

1.2.5 Dampak rantai makanan,siklus energi dan siklus pemangsa dan dimangsa pada konversi lahan pertambakan menjadi lahan kelapa sawit.

Pengalihan luas sebesar 90-110 hektar ini berdampak langsung kepada hasil produksi pertambakan. Berikut ini akan dibagi beberapa sub point dari dampak negatif konversi pertambakan menjadi perkebunan kelapa sawit:
1. Pupuk dan Pestisida

Salah satu syarat dari perkebunan kelapa sawit yang memadai adalah tanah yang subur dan gembur. Dari syarat tersebut, terdapat beberapa kemungkinan yang dilakukan oleh masyarakat pengolah perkebunan kelapa sawit, yaitu penggunaan pupuk dan pestisida yang berlebih untuk mendapatkan biji kelapa sawit yang baik. Dalam penggunaan pupuk dan pestisida berlebih ini, mengakibatkan tersisanya penggunaan pupuk dan pestisida pada tanah. Pupuk yang tersisa tadi terbawa kepada aliran air pertambakan yang berada di sekitar lahan kelapa sawit sehingga menyebabkan matinya ekosistem pertambakan.

2. Aliran air

Kelapa sawit merupakan tanaman yang membutuhkan air yang cukup banyak. Dari aliran air ini dapat dianalisa bahwa terjadi penyerapan yang banyak pada area sekitar pertambakan ke lahan perkebunan. Hal ini menyebabkan lahan pertambakan menjadi kering pada musim kemarau karena penyerapan oleh perkebunan kelapa sawit yang sangat banyak.

3. Hama perkebunan kelapa sawit

Hama yang terdapat pada kelapa sawit seperti tikus dan ular mempengaruhi ekosistem area pertambakan. Hal ini menyebabkan rantai makanan pada pertambakan akan terganggu.

Kesimpulan

Dari dampak konversi lahan pertambakan menjadi lahan kelapa sawit diatas, dapat disimpulkan bahwa rantai makanan pada pertambakan sangat berpengaruh pada proses pengelolaan kelapa sawit dan rantai makanan kelapa sawit. Hal ini berbeda sekali dengan rantai makanan pada konversi lahan mangrove ke pertambakan dikarenakan pengalihan fungsi total yang terjadi pada lahan mangrove seluas 1000 hektar ke pertambakan.

Referensi Bacaan:

Abdul Hakim. 2010. Dampak Penerapan Kebijakan Konversi Hutan Pada Kerusakan Lingkungan (Studi Kasus Pelepasan Kawasan Hutan untuk Perkebunan Kelapa Sawit). http://repository.ui.ac.id/contents/koleksi/16/15cb03ade6bb79a61339ce703ea92fbcfaedabd2.pdf. Diakses pada tanggal 18 Maret 2010

Agus Salim. 2010. Konservasi Mangrove Sebagai Pendukung Sumber Hayati Perikanan Pantai. http://www.scribd.com/doc/22477294/Konservasi-Mangrove-Sebagai-Pendukung-Sumber-Hayati-Perikanan-Pantai. Diakses pada tanggal 18 Maret 2010

Edy Purwanto. 2010. Mencermati Konversi Hutan Alam Menjadi Kebun Kelapa Sawit. http://epurwanto.wordpress.com/2008/04/21/mencermati-konversi-hutan-alam-menjadi-kebun-kelapa-sawit/. Diakses pada tanggal 18 Maret 2010

Endang Hilmi&Parengrengi. 2010. Kerusakan Ekosistem Mangrove di Indonesia. http://www.scribd.com/doc/11592887/Kerusakan-Ekosistem-Mangrove-Di-Indonesia. Diakses pada tanggal 18 Maret 2010

Supriharyono. 2008. Konservasi Ekosistem Sumberdaya Hayati Di Wilayah Pesisir Dan Laut Tropis. Pustaka Pelajar, Jakarta.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: